night in the sky

saat melihat langit malam,,apa yang kau harap selain menanti cahaya bintang

Tampilkan postingan dengan label astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label astronomi. Tampilkan semua postingan

stars are created in pairs


stars are born like a butterfly

Bersiap-siaplah untuk menikmati hujan meteor Lyrid, yang bisa diamati dari arah rasi Lyra. Hujan meteor yang telah teramati semenjak dua ribu tahun yang lalu, mungkin bukanlah hujan meteor yang meriah, dengan rata-rata 10-20 meteor perjam, tetapi kadang terjadi dalam jumlah yang besar; di tahun 1982 tercatat mencapai 90 meteor perjam, dan bahkan pernah mencapai 180-300 permenit. Demikian juga pada tahun 1922. Fenomena yang jarang terjadi ini tidaklah mudah terprediksi, oleh karena itu, akan menjadi sangat menarik untuk menikmati & mengamatinya, siapa tahu pada saat kita mengamati, sedang ramai hujan meteor terjadi.

Peta langit untuk hujan meteor lyrid 2010. Kredit : spaceweather

Pada tahun ini, hujan meteorLyrid akan terjadi sekitar 16-26 April 2010 dan berpuncak hari rabu, 22 April 2010, dengan sehari sebelum dan sesudah juga memungkinkan memberikan hasil pengamatan yang menarik (jika langit cerah). Saat pengamatan terbaik adalah setelah bulan terbenam di bawah horizon, tentunya setelah lepas tengah malam; dan carilah pada arah utara, temukan segitiga musim panas (Vega, Deneb & Altair, lihat gambar). Deneb adalah bintang paling cerlang pada rasi Cygnus, Altair pada rasi Aquila dan pusatkan perhatian Vega, bintang paling terang pada rasi Lyra.

Rasi Lyra di arah timur laut. Kredit : Starwalk

Dari arah situlah, apabila kita beruntung, maka akan menikmati terjadinya hujan meteor. Jadi, tunggu apa lagi, mari kita bersiap, mencari tempat yang gelap, dengan tempat pengamatan nan nyaman di dini hari, menikmati hujan meteor Lyrid.


Dikutip dari : langitselatan.com

Biarkan bumi bernafas sejenak ! Ubah dunia dalam 1 jam, matikan lampu!.

Aksi pemadaman lampu selama 1 jam.

Inilah aksi gobal selama satu jam yang akan dilaksanakan di seluruh dunia pada tanggal 27 Maret 2009 pada pukul 20.30 – 21.30. Aksi yang berlangsung sejak tahun 2007 tersebut telah berhasil mengikutsertakan lebih dari 1 milyar penduduk Bumi dari 88 negara untuk mematikan lampu selama satu jam saja.

Aksi ini dimulai pada tahun 2007 dengan sebuah pertanyaan sederhana, bagaimana caranya menginspirasi orang untuk mengambil sebuah langkah nyata dalam masalah perubahan iklim? Jawabannya, mintalah penduduk Sidney untuk memadamkan lampunya selama satu jam. Hasilnya? Tanggal 31 Maret 2007, 2,2 juta penduduk dan 2100 pebisnis di Sydney turut ambil bagian dalam aksi tersebut. Lampu dipadamkan selama satu jam – yang disebut sebagai Earth Hour. Jika reduksi efek rumah kaca yang dicapai Sydney selama Earth Hour bisa bertahan selama satu tahun, maka itu akan sama dengan meniadakan 48.616 mobil dari jalan selama setahun.

Aksi ini kemudian diteruskan menjadi gerakan global yang melibatkan individu masyarakat, korporasi bahkan negara untuk sama-sama terlibat dan memikirkan tentang kondisi Bumi yang kelelahan. Pada saat lampu dipadamkan dari rumah ke rumah, kota ke kota, saat kegelapan melanda, suara kita akan didengar oleh orang-orang yang masih punya kepedulian. Itulah harapannya.

Tak bisa dipungkiri kalau problematika iklim saat ini menjadi salah satu masalah serius bagi Bumi. Isu pemanasan global mungkin membuat kita bertanya-tanya, lantas apa yang harus dilakukan untuk mengatasi dan menyelamatkan Bumi? Bukankah kebergantungan hidup manusia pada listrik demikian besar?

Yang pasti kebergantungan pada listrik yang notabene paling banyak berasal dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan mengeluarkan CO2 atau gas rumah kaca telah mengakibatkan kenaikan dramatis temperatur rata-rata Bumi sehingga menyebabkan naiknya air permukaan laut, musim kemarau panjang serta badai, dan perubahan besar-besaran terhadap lingkungan hidup yang telah menjadi sumber kehidupan kita.

Earth Hour memang tidak akan bisa menjadi jawaban instan atas permasalahan tersebut. namun setidaknyaEarth Hour bisa menjadi “awal” bagi masyarakat atau “momentum” untuk mengingatkan masyarakat akan problematika iklim yang terjadi di Bumi ini sehingga untuk itu dibutuhkan perubahan gaya hidup untuk dapat berkontribusi dalam “menyelamatkan Bumi”.

International Dark Sky Week (IDSW)
Nah, Earth Hour hanya akan berlangsung satu jam. Pertanyaan yang sering diajukan adalah apakah efektif? Jawabannya memang kembali pada individu yang melaksanakan, apakah ia akan mengubah gaya hidupnya atau tidak. Tapi masalah “kesadaran” untuk membuat perubahan ini bukan hanya 1 jam kok.

Busur Bima Sakti yang seharusnya tampak jika langit gelap. Kredit : Babak Tafreshi

Di berbagai belahan dunia, setelah aksi Earth Hour, akan ada yang namanya International Dark Sky Week. Gerakan yang satu ini bukan hanya sehari tapi satu minggu yang akan berlangsung dari tanggal 4 – 10 April 2010. Idenya adalah tingkat polusi cahaya di dunia terutama di kota-kota besar sudah sangat tinggi. Kota seakan telah ditudungi oleh cahaya dan langit gelap adalah sesuatu yang sangat langka untuk bisa ditemukan di daerah perkotaan.

Tak percaya ? Cobalah ke luar rumah dan lihatlah ke langit, berapa banyak bintang yang bisa terlihat? Tapi mengapa langit gelap ini demikian penting? Bukankah melihat bintang adalah urusan astronom?

Yang pasti, tak perlu menjadi astronom untuk menyatakan langit gelap itu penting. Saat ini langit gelap merupakan salah satu kekayaan alam yang mulai punah. Satu generasi lalu, di hampir semua kota besar, masyarakat dapat menikmati busur Bima Sakti maupun indahnya taburan bintang di langit dari halaman rumah mereka. Sekarang? Lihatlah dan buktikan sendiri betapa sedikitnya obyek langit yang bisa kita nikmati dari halaman rumah. Dan jika ini terus terjadi… generasi berikutnya tak kan pernah melihat bintang di langit!

Peta polusi cahaya di dunia. Kredit : NASA

Hilangnya langit gelap disebabkan oleh polusi cahaya, dalam hal ini cahaya artifisial yang berasal dari lampu jalan, papan reklame, dll yang bersinar ke langit. Yang pasti cahaya yang terpancar ke atas ini juga sudah pasti merupakan energi yang terbuang. Energi tersebut kemudian dipantulkan oleh atmosfer Bumi dan menyebabkan langit malam menjadi semakin terang dan cerlang. Nah, energi listrik yang terbuang ini lagi-lagi berasal dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang tidak bisa diperbaharui. Akibatnya akan ada polusi udara.

Pembuangan energi seperti ini tentunya sangat tidak perlu. Untuk itu perlu digerakkan sebuah kesadaran untuk mengurangi polusi cahaya. Kalau Earth Hour juga ikut membantu pengurangan polusi cahaya lewat mematikan lampu selama 1 jam, maka International Dark Sky Week justru mengajak seluruh masyarakat Bumi untuk belajar dan menerapkan bagaimana kita bisa menghemat penggunaan listrik sekaligus membantu membuat langit tetap gelap.

Kegiatan yang dimulai sebagai National Dark Sky Week di Amerika pada tahun 2003 ini memang pada akhirnya menjadi kegiatan global yang dikumandangkan oleh International Dark Sky Association dan UNESCO pada tahun 2009 disepanjang International Year of Astronomy 2009. Nah bagaimana kita berpartisipasi dalam International Dark Sky Week ?

  • Matikan lampu tamanmu di sepanjang minggu jika memang aman untuk dilakukan.
  • Nyalakan lampu yang dibutuhkan saja
  • Ajak teman dan tetangga untuk ikut berpartisipasi
  • Gantilah lampu dengan lampu yang lebih menghemat energi dan tudung bagi lampu jika memungkinkan. Hal ini dilakukan agar cahaya yang terpancar dari lampu tidak akan mengarah ke langit.
  • Ikutlah dalam star party atau kegiatan lainya di observatorium atau planetarium lokal di sepanjang minggu tersebut dan promosikan tentang dark skies awareness.

Saat ini, menurut PBB, masyarakat dunia sudah berjumlah lebih dari 3,3 milyar jiwa dan lebih dari setengahnya menetap di area perkotaan. Pertumbuhan ini akan mencapai 5 milyar pada tahun 2030. Dengan pertumbuhan kota maka pengaruhnya pada lingkungan pun akan terus bertumbuh. Untuk itu diperlukan kesadaran yang dimulai sejak sekarang untuk mengurangi dampak dari kerusakan lingkungan tersebut.

Selain International Dark Sky Week, pada tanggal 20 April juga akan diadakan “World Night” in defence of the Night Sky dan waktu untuk mengamati bintang sebagai kekayaan budaya, sains dan lingkungan. Setiap tahun, pada tanggal 20 April, kita diajak untuk mengingat hak kita agar memiliki kesempatan menikmati langit malam yang gelap dan penuh bintang gemintang. Kegiatannya? Tentunya tak beda jauh dengan International Dark Sky Week, karena “World Night” in defence of the Night Sky juga merupakan awal lahirnya Dark Sky Week.

Di bulan yang sama, dunia juga akan melakukan Bulan Astronomi Global yang akan dilangsungkan di sepanjang bulan April. Kegiatan tersebut juga mengikutsertakan Earth Hour, International Dark Sky Weekdan “World Night” in defence of the Night Sky dalam program yang akan dilaksanakannya. Karena itu bergabunglah, dan jangan berhenti setelah Earth Hour. Berpartisipasilah sebanyak mungkin dalam kegiatan untuk melestarikan langit malam dari polusi cahaya dan teruskanlah sebagai gaya hidup baru yang akan menyelamatkan Bumi.

Ingat, dari satu langkah kecil kita bisa mendapatkan hasil yang besar di masa depan yang akan menjadi warisan berharga bagi generasi selanjutnya.

Dikutip dari : langitselatan.com

Setelah menunggu cukup lama, para astronot akhirnya mendapat izin untuk dapat mengakses internet di luar angkasa. Timothy (TJ) Creamer, salah seorang penghuni Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) telah berusaha mendapatkan akses internet sejak ia berangkat dari Bumi sebulan silam. Pada Jumat (22/1), ia mengirim tweet pertama langsung dari luar angkasa.

"Halo Twitterverse. Kami sekarang sedang mengirim tweet langsung dari ISS. Tweet pertama dari luar angkasa. Sampai berjumpa lagi, kirim balasan Anda," tulis TJ di laman Twitter-nya. Awak ISS kini dapat menggunakan laptop tak hanya untuk mengirim sejumlah data ke Bumi saja, tapi juga dapat berselancar di dunia maya. Akses internet ini terhubung melalui jaringan penghubung komunikasi berkecepatan tinggi.

Pihak National Aeronautics and Space Administration (NASA) mengatakan akses internet ini ditujukan untuk menaikkan moral para astronot. Hal itu dirasa perlu karena para astronot terpisah jauh dari keluarga dan kerabat dalam waktu lama. Lalu apakah NASA khawatir para astronot itu nantinya akan lebih memilih untuk internet-an ketimbang bekerja? "Mereka adalah individu yang berdedikasi tinggi. Jadi mereka akan memprioritaskan pekerjaannya terlebih dahulu," ucap juru bicara NASA, Kelly Humphries pada Associated Press.(AYB)

Penemuan planet super Bumi pada bintang deret utama di tahun 2005 menjadi awal perjalanan era baru penemuan planet-planet berukuran Bumi tersebut. Sampai saat ini sudah ditemukan 28 planet super Bumi dengan ukuran beragam dari 1,9 – 9,4 massa Bumi. Apakah pencarian ini berhenti? Tidak juga.

Pencarian terus berlanjut. Selama ini planet super Bumi yang ditemukan tersebut rata-rata mengitari bintang katai merah atau bintang kelas K dan M yang lebih dingin dari Matahari. Namun tak berarti bahwa tidak ada planet super Bumi yang mengitari bintang sekelas Matahari.

Steven Vogt dari University of California, Santa Cruz, dan Paul Butler dari Carnegie Institution of Washington, berhasil menemukan 6 exoplanet bermassa kecil mengelilingi dua buah bintang dekat yang serupa Matahari. Di antara planet-planet tersebut, dua di antaranya merupakan planet super Bumi yang sekaligus menjadi 2 planet super Bumi pertama yang ditemukan mengelilingi bintang serupa Matahari.

Penemuan ini juga mengindikasikan kalau planet bermassa kecil sebenarnya merupakan fenomena umum yang ada di sekeliling bintang. Dan tak bisa dipungkiri kalau penemuan ini justru menjadi indikasi bahwa penemuan planet serupa Bumi yang memiliki potens kehidupan bukan lagi menjadi sebuah harapan kosong. Bukan tak mungkin kalau dalam beberapa tahun ke depan planet seperti itu berhasil ditemukan. Apalagi dalam tahun-tahun mendatang berbagai misi pencarian exoplanet juga akan diluncurkan.

Planet – planet bermassa kecil tersebut ditemukan dengan menggabungkan data yang dikumpulkan oleh teleskop Keck di W. M. Keck Observatory, Hawaii dan Anglo-Australian Telescope (AAT) di New South Wales, Australia.

Sistem Keplanetan 61 Virginis

Bintang 61 Virginis yang bisa dilihat dengan mata bugil dari Bumi. Kredit : NASA

Bintang 61 Virginis yang bisa dilihat dengan mata bugil dari Bumi. Kredit : NASA

Dari planet-planet yang ditemukan tersebut, tiga di antaranya mengorbit bintang 61 Virginis, yang merupakan bintang serupa Matahari. Bintang ini berada pada jarak 27,8 tahun cahaya dan bisa dilihat dengan mata bugil pada kondisi langit yang gelap di rasi Virgo. Bintang 61 Virginis (61 Vir) merupakan bintang deret utama yang memiliki kemiripan dengan Matahari dalam hal usia, massa dan parameter lainnya. Sebagai perbandingan, 61 Vir memiliki massa 0,96 massa Matahari, dimeter 0,94 diameter Matahari serta luminositas 0,78 luminositas Matahari. Hampir serupa bukan?

Di bintang 61 Vir inilah Vogt dan rekan-rekannya berhasil menemukan ada 3 buah planet dengan massa 5, 18 dan 22,9 massa Bumi tengah mengorbit bintang tersebut. Tak hanya itu. Tim lain yang melakukan pengamatan dengan teleskop Spitzer milik NASA berhasil menemukan cincin debu yang tebal di area yang cukup jauh di sistem ini, seperti halnya Pluto dari Matahari. Debu tersebut tampaknya terbentuk dari tabrakan obyek berupa komet pada area terluar sistem yang dingin.

Debu dingin yang ditemukan Spitzer tengah mengorbit 61 Vir mengindikasikan adanya hubungan kemiripan antara Matahari dan 61 Vir. Hal ini dibuktikan oleh Eugenio Rivera, peneliti postdoctoral di UCSC melalui hasil perhitungan komputasi yang ia lakukan. Dalam simulasi numerik yang dilakukan Rivera, ia menemukan bahwa dunia yang bisa dihuni sepeti Bumi sangat mungkin ada di area yang belum dijelajahi di 61 Vir. Area yang ia maksut adalah area di antara planet yang ditemukan Vogt dan piringan debu di area terluar sistem 61 Vir.

Orbit planet-planet dalam sistem keplanetan 61 Virgnis. Kredit : Earthbound Planet Search

Orbit planet-planet dalam sistem keplanetan 61 Virgnis. Kredit : Earthbound Planet Search

Simulasi pola temperatur pada atmosferik global planet yang baru ditemukan di 61 Virginis. Pola alirannya menunjukkan kemiripan dengan pola di planet Venus. Kredit : J. Langton, Principia College.

Simulasi pola temperatur pada atmosferik global planet yang baru ditemukan di 61 Virginis. Pola alirannya menunjukkan kemiripan dengan pola di planet Venus. Kredit : J. Langton, Principia College.

Pengamatan dan studi lanjut sistem 61 Vir ini akan dilakukan dengan menggunakan Automated Planet Finder (APF) Telescope, teleskop baru yang sedang dibangun di Lick Observatory, Mount Hamilton dekat San Jose

Sistem Keplanetan HD1461

Sistem kedua yang ditemukan mengindikasikan keberadaan planet super Bumi dengan massa 7,5 massa Bumi yang sedang mengorbit bintang HD 1461, bintang lainnya yang hampir bisa dikatakan sebagai kembaran Matahari. HD 1461 merupakan bintang yang berada pada jarak 76 tahun cahaya dan berada di rasi Cetus. Bintang ini bisa terlihat dengan mata bugil saat malam menjelang pada kondisi langit yang sangat gelap.

Selain planet super Bumi tersebut, diperkirakan sistem ini masih memiliki 2 planet tambahan lainnya. Planet HD 1461b dengan massa 7,5 massa Bumi merupakan planet dengan massa menengah antara massa Bumi dan Uranus. Dan yang masih belum terpecahkan adalah, apakah planet ini merupakan planet serupa Bumi yang sebagian besar merupakan batuan dan besi ataukah seperti Uranus dan Neptunus yang sebagian besar terdiri dari air.

Penemuan Yang Menakjubkan
Planet-planet bermassa rendah tersebut bisa ditemukan berkat penggabungan data dari AAT dan teleskop Keck sehingga pendeteksia planet bermassa super Bumi itu bisa dimungkinkan. Planet dalam di sistem 61 Vir merupakan planet dengan sinyal planetari dengan amplitudo yang paling rendah. Kombinasi data pengamatan AAt dan Keck teleskop inilah yang memungkinkan tim peneliti bisa memastikan keberadaan planet-planet bermassa rendah tersebut.

Pendeteksian planet di 61 Vir dan HD 1461 membawa manusia pada pemikiran baru terkait dunia extrasolar planet. Semenjak tahun 1995, keberadaan planet yang mengorbit bintang sudah terbukti merupakan hal umum yang bisa ditemukan. Kini, pernyataan itu harus sedikit diubah karena indikasi penemuan exoplanet menunjukkan setengah dari Bintang di sekitar Matahari memiliki planet yang massanya sama atau sedikit lebih rendah dari Neptunus.

Atau dengan kata lain, jika dulu planet gas seukuran Jupiter adalah hal umum, maka sekarang planet super Bumi juga menjadi obyek yang ada di dalam sistem keplanetan sebuah bintang. Kenyataan lain juga datang seiring dengan perkembangan teknologi. Gregory Laughlin, salah satu penemu exoplanet menyatakan jika dulu pengamatan planet-planet seukuran Bumi hanya bisa dilakukan dengan teleskop landas angkasa, maka kini teleskop landas Bumi pun sudah mampu menemukan planet dengan potensi memiliki kehidupan.

Di masa depan… bisa jadi kita akan menemukan saudara kembar Bumi di sebuah sistem keplanetan lain. Tak ada yang tak mungkin bukan?

Sumber : UCSC

Dikutip dari : langitselatan.com

Sebelum planet-planet menemukan jalannya untuk memiliki orbit yang stabil seperti saat ini, mereka bergoyang dan dorong-mendorong seperti halnya anak-anak kecil yang tidak bisa tenang.

Saat ini, teleskop Spitzer milik NASA berhasil menemukan bintang muda dengan bukti orbit hiperaktif yang mirip. Planet muda tersebut mengelilingi bintang yang diperkirakan merupakan objek mirip komet yang mengalami gangguan dan mengakibatkan terjadinya tabrakan sehingga melepas debu halo yang sangat besar.

Bintang tersebut, HR 8799 pada bulan November 2008 lalu diberitakan sebagai bintang pertama dari dua bintang yang citranya terekam memiliki planet. Teleskop landas Bumi di Observatorium W.M Keck dan Observatorium Gemini yang berada di HAwaii, merekam citra dari 3 planet yang mengorbit pada area yang cukup jauh dari sistem, dengan massa ketiganya sekitar 10 massa jupiter. Planet lainnya yang terekam juga diumumkan pada saat yang sama dengan bintang Fomalhaut. Fomalhaut ditemukan dan dipotret oleh Teleskop Hubble milik NASA. HR 8799 dan Fomalhaut merupakan bintang muda yang jauh lebih masif dari Matahari.

Citra inframerah halo debu raksasa yang berada di sekitar bintang HR 8799. kredit : NASA/Spitzer

Citra inframerah halo debu raksasa yang berada di sekitar bintang HR 8799. kredit : NASA/Spitzer

Sebelumnya, para astronom telah menggunakan Hubble dan Spitzer untuk mengambil citra piringan yang berotasi dari puing-puing keplanetan di sekitar Fomalhaut, yang jaraknya 25 tahun cahaya dari Bumi. Bintang HR 8799 jaraknya 5 kali lebih jauh sehingga para ilmuwan sendiri meragukan apakah Spitzer mampu memotret piringannya. Ternyata… Spitzer berhasil.

Menurut Kate Su dari Universitas Arizona, sekaligus pimpinan tim peneliti sistem di HR 8799, “awan debu raksasa yang mengelilingi piringan itu sangat tidak biasa. Debu tersebut diperkirakan berasal dari tabrakan antar benda kecil yang mirip komet atau obyek es yang membentuk sabuk Kuiper di Tata Surya”. Gravitasi ketiga planet raksasa ini menyebabkan benda-benda yang lebih kecil terlontar dan bermigrasi di area sekeliling atau bertabrakan satu sama lainnya. Bahkan para astronom memperkirakan kalau ketiga planet tersebut masih belum bisa dipastikan kapan akan mencapai orbit yang stabil. Dengan demikian masih banyak kekerasan yang akan terus terjadi.

Sistem mengalami keadaan yang kacau dan semrawut. Tabrakan terjadi dimna-mana dan memenuhi awan besar itu dengan debu halus. Yang menarik, para ilmuwan berhasil mendapatkan hubungan langsung antara piringan planet dan planet yang terekam dalam citra. Penelitian pada piringan sudah lama dilakukan, dan hanya bintang HR 8799 dan Fomalhaut yang merupakan dua contoh sistem yang dapat dipelajari hubunganya antara lokasi planet dan piringan.

Saat Tata Surya masih muda, ia juga melewati proses migrasi yang mirip. Jupiter dan Saturnus bergerak berkeliling, mengalami tabrakan dan melemparkan komet ke sekelilingnya bahkan kadang ke Bumi. Bahkan ada teori yang mengatakan kalau kejadian ekstrim pada fasa inilah yang dikenal dengan nama tabrakan besar (heavy bombardment), fasa yang diyakini dapat menjelaskan bagaimana Bumi memiliki air. Diperkirakan, komet yang mirip bola saljulah yang telah menghantam Bumi dan membawa cairan favorit penduduk Bumi, air.


Dikutip dari : langitselatan.com

Barat telah mencapai kemajuan dalam ilmu luar angkasa. Tapi, sesungguhnya dari tangan ilmuwan Muslim misteri angkasa luar itu pertama kali berhasil disibak

















Hidayatullah.com--
Islam mencapai puncak kejayaannya pada era pemerintahan Daulah Abbasiyah, terutama pada bidang ilmu pengetahuan. Nyaris tak ada sejengkal pun dari bilik-bilik ilmu ini yang tidak tersentuh oleh umat Islam. Termasuk ilmu tentang dunia luar angkasa. Nashiruddin ath-Thusi dan al-Biruni adalah sebagian dari sosok yang cukup dikenal kepakarannya dalam bidang ini.

Jadi sebelum ilmuwan Barat bergelut di dalamnya, para ilmuwan Islam telah lebih dulu mendalami dan mengakrabi dunia angkasa luar. Meski tak semaju dengan capaian ilmuwan Barat, tapi dari hasil kajian ilmuwan Muslimlah pintu-pintu menuju kemajuan terbuka satu demi satu.

Bintang, bulan, dan matahari adalah obyek penelitian yang paling menarik perhatian para ilmuwan Muslim kala itu. Pasalnya, Al-Quran mengabarkan bahwa ketiga ciptaan Allah ini mempunyai fungsi yang luar biasa. Bintang misalnya, Allah menciptakannya sebagai petunjuk dalam menentukan arah.

Inilah yang coba diteliti oleh ilmuwan Muslim ketika itu. Dari hasil kajian dunia luar angkasa, beragam kemudahan bisa dinikmati umat Islam saat itu. Satu persatu hikmah dan manfaat di balik penciptaan bintang berhasil terkuak. Yang paling sangat bermanfaat adalah cara dalam menjadikan bintang sebagai penunjuk arah.

Jelas saja hasil itu berpengaruh besar dalam kehidupan umat Islam saat itu. Sektor perekonomian termasuk yang paling merasakan berkahnya. Perjalanan bisnis para saudagar Arab yang kerap tersendat oleh pekatnya malam, kini sudah mulai teratasi. Dengan adanya penunjuk arah, hamparan padang pasir yang berselimutkan gelapnya malam bukan lagi 'penyesat' yang perlu ditakuti. Begitu juga para nelayan yang mencari ikan di hamparan laut luas.

Kita juga mengakui bahwa sebagian dari ilmu perbintangan ini dikecam oleh para ulama. Namun, jika kita perhatikan buku akidah, maka yang diharamkan adalah ilmu perbintangan yang digunakan untuk meramal perkara-perkara yang belum terjadi, seperti meramal nasib atau kejadian tertentu yang sifatnya ghaib bagi manusia. Lain halnya jika ia digunakan untuk kepentingan menentukan arah. Dalam fungsi ini hukumnya mubah-mubah saja. Al-Quran sendiri melegalkannya. Bahkan, hukum itu bisa berubah menjadi mustahab atau wajib jika digunakan untuk menentukan arah kiblat.

Bukti Sejarah

Di perpustakaan Eropa, kita bisa menemukan bukti bahwa sumbangsih ilmuwan Muslim dalam ilmu luar angkasa bukan omong kosong. Khususnya yang berkaitan dengan penamaan bintang. Seorang penulis Barat bernama Paul Kunitzsch menemukannya dalam buku Almagest karya Ptolomeus tentang penamaan bintang "Fomalhault" . Nama itu berasal dari bahasa Arab, "famul haut" yang berarti mulut ikan hiu. Muslim Heritage Foundation bahkan mencatat ratusan nama bintang yang berasal dari Bahasa Arab.

Tapi begitulah siklus kehidupan yang diinginkan pencipta-Nya. Allah akan mempergilirkan kejayaan itu berdasarkan usaha dan kerja keras setiap kaum. Itulah yang terjadi pada rezim Abbasiyah. Pemerintahan yang semakin melemah memaksa perkembangan ilmu pengetahuan kembali masuk ke jalur lambat. Apa yang telah dirintis oleh para ilmuwan kita seolah kehilangan induknya karena tak lagi mendapat nafkah perhatian yang memadai. Salah satu yang mengalami nasib malang itu adalah ilmu angkasa luar.

Lahir kembali

Berabad abad terlelap tidur, akhirnya kejayaan Islam di luar angkasa yang nyaris terkubur itu seolah lahir kembali. Sultan Salman Abdul Aziz adalah aktor utamanya. Pria berkebangsaan Arab Saudi ini tak lagi mengamati ciptaan Allah di luar angkasa dari bumi. Ia melihatnya dalam radius yang lebih dekat.

Pada tahun 1985, ia berangkat ke luar angkasa sebagai peneliti mewakili organisasi satelit Arab. Keberangkatannya tentu saja mengangkat prestise umat Islam di dunia internasional. Pasalnya, pria yang tak lain cucu pendiri Kerajaan Arab Saudi ini menjadi orang Islam pertama yang berhasil menembus luar angkasa.

Ia melayang di dunia yang sangat asing ini selama delapan hari. Sepulang dari luar angkasa Sultan bukannya istirahat. Pria kelahiran Riyadh, 27 Juni 1956 ini bersama beberapa orang temannya, langsung mendirikan Association of Space Explorers. Lembaga bertaraf internasional ini mewadahi para astronot yang pernah mengangkasa. Sultan menjadi orang penting di dalamnya.

Keinginan mengembalikan kejayaan Islam di luar angkasa juga ikut menjalar sampai ke negeri jiran. Pemerintah Malaysia selalu menunggu waktu yang tepat untuk mengirim putra terbaiknya ke luar angkasa. Dan saat yang dinanti pun tiba. Pada tahun 2005, pemerintah Malaysia memutuskan untuk membuat program mengirim angkasawan ke Rusia. Mereka belajar di sana sebelum terbang.

Rencana besar ini tidak dilakukannya dengan sembrono. Pendaftaran memang terbuka, tapi seleksinya diperketat. Jumlah pendaftar mencapai 11.000 orang. Mereka mengikuti sembilan tahap seleksi, sampai akhirnya hanya terpilih sepuluh di antara mereka yang layak pergi ke Rusia untuk memperdalam ilmu angkasa di sana. Dari sepuluh orang yang dikirim, Rusia memutuskan untuk memilih satu saja di antara mereka yang layak pergi menjalankan misi di luar angkasa.

Keberuntungan itu jatuh pada Dr Sheikh Muszafhar Shukor. Pria yang sehari-harinya bekerja di sebuah rumah sakit di Malaysia, berhasil menyisihkan ribuan pesaingnya. Ia akhirnya meluncur ke angkasa pada tanggal 10 Oktober 2007 lalu. Sesuai dengan keahliannya sebagai dokter bedah ortopedik, di luar angkasa ia menjalani eksperimen yang terkait dengan bedah tulang.

Shalat di Luar Angkasa

Penelitian bukanlah satu-satunya misi Sheikh Muszafhar di luar angkasa. Ia juga membawa misi relijius yang sangat penting. Ia ingin melaksanakan shalat di luar angkasa, sekaligus mengabarkan kepada dunia bahwa shalat adalah ibadah yang sangat agung. Ibadah yang tidak boleh ditinggalkan kapan dan di mana saja, termasuk ketika berada di luar angkasa.

Bersama tiga astronot lainnya, ia mengangkasa selama 12 hari. Waktu itu umat Islam di bumi sedang menjalankan ibadah puasa. Sebagai orang Islam, Sheikh tetap menjalankan ibadah itu meski berada ribuan mil dari bumi. Dan ia mengaku, berpuasa di langit jauh lebih nyaman dan khusyuk. Selain karena tidak merasa haus, lapar, atau lelah, ia juga bisa melihat beragam tanda-tanda kekuasaan Allah.

Di angkasa, Sheikh menjalankan sejumlah eksperimen yang diamanahkan kepadanya. Di atas sana, ia menjalankan fungsinya sebagai dokter dengan penelitian-penelitian biologis dan kimiawinya. Menurut Sheikh, 12 hari ternyata tidak cukup panjang untuk menjalankan semua eksperimennya.

Sheikh tidak bisa menyembunyikan rasa puas dari perjalanannya ini. Bukan saja karena ia berhasil melakukan penelitian, sebagaimana yang ia rencanakan. Di luar angkasa ia bisa menjumpai banyak sekali tanda kekuasaan Allah. Yang tak mungkin terlupakan, ketika ia mendengar suara adzan di sana.

"Saya seperti menemukan kedamaian yang berbeda. Percaya atau tidak, di hari terakhir sewaktu kami hendak turun ke bumi, saya mendengar suara adzan," kisahnya. Rasa syukur dan senang Sheikh semakin berlipat karena ia merasa keberangkatannya tak sekedar mewakili negaranya, tapi juga dunia Islam.

Dikutip dari : hidayatullah.com

Astronom berhasil melacak kumpulan galaksi raksasa yang sebelumnya tidak dikenal dan berada 7 milyar tahun cahaya dari kita. Objek tersebut ditemukan oleh kombinasi dua teleskop landas Bumi yang memiliki kemampuan mutakhir dan sekaligus menjadikan penemuan ini sebagai pengamatan yang pertama dalam hal struktur galaksi pada alam semesta yang jauh. Dengan demikian penemuan ini memberikan kepada kita sebuah cerita baru dari jaringan kosmik dan bagaimana ia terbentuk.

Citra yang didapat oleh Teleskop Subaru. Kredit : ESO/Subaru/National Astronomical Observatory of Japan/M. Tanaka

Citra yang didapat oleh Teleskop Subaru. Kredit : ESO/Subaru/National Astronomical Observatory of Japan/M. Tanaka

Menurut Masayuki Tanaka dari ESO, “materi tidak terdistribusi seragam di alam semesta. Di daerah kosmik, bintang terbentuk dalam galaksi dan galaksi-galaksi biasanya membentuk kelompok dan gugus. Teori kosmologi yang paling diterima memperediksikan materi juga berada dalam rumpun dengan skala yang cukup besar yang biasanya dikenal sebagai jaringan kosmik, dimana galaksi tertanam dalam filamen dan terulur diantara kehampaan membentuk struktur gumpalan maha raksasa”.

Filamen-filamen tersebut panjangnya jutaan tahun cahaya dan merupakan kerangka alam semesta: galaksi berkumpul disekelilingnya, dan gugus galaksi yang sangat besar terbentuk di ruang perpotongannya, mengintip seperti laba-laba raksasa yang menanti materi lebih banyak lagi untuk dilahap. Nah, para peneliti justru berusaha mencari tahu bagaimana filamen-filamen tersebut bisa melakukan putaran dan ada seperti yang dilihat. Sebelumnya, struktur filamen yang masif sudah pernah diamati pada jarak yang lebih dekat, namun bukti keberadaan mereka pada alam semesta jauh sebenarnya bisa dikatakan masih sangat kurang sampai dengan saat ini.

Tim yang dipimpin Tanaka berhasil menemukan struktur raksasa disekeliling gugus galaksi dalam citra yang mereka dapatkan sebelumnya. Mereka kemudian menggunakan dua teleskop landas Bumi untuk dapat mempelajari struktur tersebut dalam detil yang lebih baik lagi. Pengamatan spektroskopik kemudian dilakukan dengan menggunakan instrumen VIMOS pada Very Large Telescope milik ESO dan FOCAS pada Teleksop Subaru yang dioperasikan oleh National Astronomical Observatory of Japan.

Hasilnya, para astronom bisa membuat studi demografi dari struktur yang ditemukan tersebut dan melakukan identifikasi terhadap beberapa kelompok galaksi yang mengelilingi rumpun galaksi utama. Tak hanya itu, mereka juga berhasil melihat dengan jelas dan membedakan puluhan rumpun, dan secara tipikal 10 kali lebih masif dari galaksi Bima Sakti. Sebagian lainnya bahkan diperkirakan ribuan kali lebih masif, sementara hasil perhitungan menunjukkan massa di cluster galaksi setidaknya 10 ribu kali massa Bima Sakti. Bahkan sebagian rumpun mengalami gaya tarik yang fatal dari si cluster dan akibatnya mereka jatuh ke dalam rumpunan tersebut.

Ilustrasi yang menunjukkan posisi galaksi. Kredit: ESO

Ilustrasi yang menunjukkan posisi galaksi. Kredit: ESO

Menurut Tanaka, “Ini pertama kalinya mereka mengamati struktur yang kaya di galaksi jauh. Kami sekarang bisa berpindah dari demografi ke sosiologi dan kemudian mempelajari perangkat di dalam galaksi yang bergantung pada lingkungan, saat alam semesta berusia 2/3 dari usia saat ini. Filamen tersebut berlokasi 6,7 milyar tahun cahaya dan membentang sampai dengan 60 juta tahun cahaya.

Dikutip dari : langitselatan.com

Benarkah Apophis akan mengakhiri nasib Bumi tahun 2036? Kalau sebelumnya cosmos4u sudah melakukan konfirmasi dengan Don Yeoman dari NEO tentang kemungkinan tabrakan tersebut, kali ini secara resmi pihak NASA-lah yang mengeluarkan rilis berita tentang kemungkinan tabrakan Apophis serta berita yang sedang beredar tersebut.

Dalam berita sebelumnya, Nico Marquardt, seorang siswa berusia 13 tahun, menyatakan Apophis akan menabrak Bumi dalam perbandingan 1:450. Berita yang beredar juga menyebutkan kalau Nico dan NASA sudah mencapai kesepakatan, bahkan NASA telah mengakui kalau ada kesalahan dalam perhitungan mereka.

Dari kantor Near-Earth Object (NEO) Program di NASA’s Jet Propulsion Laboratory, Pasadena, Calif, dinyatakan bahwa NEO tidak pernah merubah estimasi yang ada saat ini terhadap kemungkinan tabrakan Apophis. Apophis tetap akan memiliki kemungkinan tabrakan yang rendah dengan Bumi yakni 1 : 45000 di tahun 2036. Bahkan NASA khususnya dari NEO Program menyatakan, para peneliti mereka belum pernah melakukan kontak maupun korespondensi dengan siswa tersebut.

Dalam berita sebelumnya, dinyatakan Nico Marquardt melakukan perhitungan terhadap kemungkinan tabrakan antara asteroid Apophis dengan satelit buatan sepanjang close encounter (pertemuan terdekat) degan Bumi pada tahun 2029.

Sayangnya, pada tahun 2029 saat asteroid Apophis tersebut mendekati Bumi, ia tidak akan melewati area di dekat sabuk utama satelit Geosynchronous. Dengan kata lain, kesempatan terjadinya tabrakan dengan satelit buatan sangat jauh.

Karena itu, pertimbangan skenario kemungkinan tabrakan dengan satelit tetap tidak akan mempengaruhi kemungkinan tabrakan yang sudah diperhitungkan saat ini, yakni satu berbanding 45.000.

NASA, khususnya program NEO, bertugas untuk mendeteksi dan mencari jejak asteroid dan komet yang melintas dekat Bumi. Mereka akan mencari dan menghitung jejak orbit si objek untuk menentukan apakah peristiwa itu berbahaya bagi Bumi atau tidak.

Dikutip dari : langitselatan.com

i

Jangan lewatkan kesempatan untuk mengamati hujan meteor Leonid yang bakal mencapai puncaknya pada Selasa (17/ 11) malam. Pemandangan langka yang tidak semua orang bisa menikmatinya ini bisa disaksikan dengan mata telanjang di semua wilayah dunia, bahkan paling baik dilihat dari Asia, termasuk Indonesia.

Setiap tahun, hujan meteor Leonid selalu mendapat perhatian dari para pengamat langit. Kali ini, kondisi langit juga mendukung karena bulan dalam fase bulan baru sehingga cahayanya tidak mengganggu. Namun, pemandangan spektakuler ini tentu baru bisa dinikmati jika cuaca tidak mendung.

"Kami prediksi 20-30 meteor per jam di atas langit Amerika dan sebanyak 200-300 meteor per jam di langit Asia," ujar Bill Cooke, pejabat di Meteoroid Environment Office NASA. Waktu terbiak untuk mengamatinya adalah setelah tengah malam hingga fajar.

Disebut hujan meteor Leonid karena meteor-meteor yang melesat muncul dari pusat radian di atas rasi bintang Leo. Bulan November ini, rasi bintang ini bisa dilihat di arah Timur Laut pada malam hari. Hujan meteor Leonid berasal dari serpihan-serpihan komet Tempel-Tuttle yang tertinggal saat mendekati Matahari setiap 33 tahun sekali. Saat serpihan-serpihannya melintasi atmosfer Bumi, ia akan terbakar dan terlihat sebagai meteor.

Ukuran serpihan-serpihan berupa debu dan es itu rata-rata tak lebih besar dari butiran pasir. Namun, ada beberapa yang sebesar biji kacang atau kelereng. Namun, karena arah gerak serpihan-serpihan itu berlawanan dengan gerakan Bumi, kecepatan meteor yang melesat bisa mencapai 72 kilometer per jam dan kadang-kadang membentuk jalur cahaya yang panjang dengan rona cahaya putih, biru, atau hijau.

Jumlah meteor yang melesat setiap tahun berubah-ubah tergantung bagian yang bersinggungan dengan atmosfer Bumi. Tahun ini diperkirakan lebih banyak meteor yang terlihat dibandingkan tahun lalu. Namun, pemandangan paling spektakuler pernah terjadi antara tahun 1999 dan 2002 saat ribuan meteor bisa dilihat dalam setiap jam sehingga mirip badai meteor.

Dikutip dari : kompas.com


Aurora adalah fen omena pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer dari sebuah planet sebagai akibat adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh matahari (angin matahari).



Di bumi, aurora terjadi di daerah di sekitar kutub Utara dan kutub Selatan magnetiknya. Aurora yang terjadi di daerah sebelah Utara dikenal dengan nama Aurora Borealis (IPA /ɔˈɹɔɹə bɔɹiˈælɪs/), yang dinamai bersempena Dewi Fajar Rom, Aurora, dan nama Yunani untuk angin utara, Boreas. Ini karena di Eropa, aurora sering terlihat kemerah-merahan di ufuk utara seolah-olah matahari akan terbit dari arah tersebut. Aurora borealis selalu terjadi diantara September dan Oktober dan Maret dan April.

Fenomena aurora di sebelah Selatan yang dikenal dengan Aurora Australis mempunyai sifat-sifat yang serupa.

Berikut video aurora Borealis :


Pada manuskrip peninggalan suku Maya yang tinggal di selatan Meksiko atau Guatemala yang dikenal menguasai ilmu Falak, disebutkan bahwa kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012. Disebutkan juga pada waktu itu akan muncul gelombang galaksi yang besar-besaran sehingga mengakibatkan terhentinya semua kegiatan di muka bumi ini. Ramalan akan adanya kiamat pada 2012 dari suku Maya sebenarnya belum diketahui dasar perhitungannya. Tentang waktu, kapan kiamat terjadi, ummat Islam hanya diberi sign, berupa tanda-tanda datangnya hari kiamat.

Sejatinya gelombang galaksi yang besar-besaran tersebut merupakan badai matahari. Ancaman itu bukan skenario ilmiah satu banding sejuta. Tapi ancaman itu sangat nyata, dan akan terjadi pada September 2012. Badai matahari dahsyat pernah terjadi pada pagi 1 September 1859. Astronomer Inggris terkenal Richard Carrington yang sedang mengamati matahari, mendapati permukaan matahari terjadi suatu hal yang tidak biasa. Cahaya terang keluar dari permukaan matahari. Cahaya itu membentuk gumpalan besar saat menuju bumi. Hanya dalam tempo 48 jam kemudian mulai menerpa dan efeknya luar biasa.

Sebelum mencapai bumi, aurora terang muncul di langit malam. Saking terangnya, orang bisa membaca koran saat tengah malam. Di California sekelompok penambang bangun dari tidur, mengira hari sudah jajar. Padahal waktu itu baru jam 2 pagi. Operator telegraph terkena sengatan listrik, saat badai matahari menghantam. Bumi layaknya dibasuh medan listrik sangat besar. Tapi pemulihan di zaman itu berlangsung sangat cepat. Pada 1859, peralatan yang ada hanyalah mesin uap dan tenaga otot. Beda dengan zaman modern sekarang, kehidupan semuanya ditopang oleh listrik. Padahal badai matahari bisa menyebabkan lonjakan tenaga listrik hingga miliaran watt.

Jadi, apakah badai matahari benar bisa terjadi, dan mengapa kita perlu khawatir pada 2012? Karena pada 2012 semua bangunan di permukaan bumi ini memerlukan daya listrik yang amat besar, maka sampai 2012 harus ditingkatkan pembangkit listrik cadangan untuk memenuhi kebutuhan mendadak saat badai matahari menerjang. Jangan sampai kehidupan 2012 tanpa ada pembangkit daya karena listrik adalah kebutuhan utama manusia saat ini.

Dikutip dari : kapanlagi.com

Menurut sumber lain,,

Siklus aktivitas matahari yang memuncak di tahun 2012 yang menyebabkan panas yang luar biasa di bumi, terlebih atmosfer kita sudah mengalami penipisan dan bolong di beberapa bagian sehingga selain memanaskan bumi dengan radikal juga melelehkan es di kutub dan juga menimbulkan badai serta topan yang dahsyat.

Medan magnet bumi yang berfungsi sebagai pertahanan utama bumi terhadap radiasi sinar matahari mulai retak bahkan ada yang sampai sebesar kota California di sana-sini. Pergeseran kutub juga tengah berlangsung.

Tata surya kita tengah memasuki medan awan energi antar bintang. Awan itu mengaktifkan dan merusak keseimbangan matahari serta atmosfer planet-planet. Para ahli geofisika Rusia berpendapat bahwa ketika bumi akan memasuki awan energi tersebut di tahun 20120 hingga 2020 dan akan menimbulkan bencana besar yang belum pernah ada sebelumnya.

Fisikawan UC Berkeley menyatakan dinosaurus serta spesies lainnya telah punah akibat tumbukan asteroid raksasa 65 juta tahun silam. Menurut siklus yang diperhitungkan secara ilmiah, seharusnya hal itu sudah terjadi lagi di saat-saat sekarang.

Supervulkan Yellowstone yang memiliki siklus letusan dahsyat setiap 600 hingga 700 ribu tahun tengah bersiap untuk meletus kembali. Beberapa perhitunmgan ilmiah lainnya turut mendukung pandangan ini.

Menariknya, ramalan bangsa Maya (juga suku Hopi, Mesir Kuno, dan beberapa suku kuno lainnya) di dalam kalendernya dengan detil mengungkapkan jika tahun 2012 merupakan akhir sekaligus awal zaman baru. Bagaikan kelahiran seorang anak manusia, maka kelahiran zaman baru ini akan dipenuhi dengan darah. Suku Maya merupakan salah satu suku kuno di dunia ini yang dikenal sebagai suku yang sangat detil memperhatikan dan menghitung bintang-bintang dan benda langit lainnya.

Kitab kuno dari Cina, I Ching, juga menyatakan akan terjadi bencana besar di tahun 2012.

Beberapa ativitas modern juga terkait dengan tahun 2012, yakni dateline modernisasi besar-besaran Pentagon paska ditubruk rudal dalam peristiwa 11 September 2001, batas akhir pelaksanaan Codex Alimentarius yang berupaya mengurangi populasi manusia di bumi dengan rekayasa genetika dan makanan transgenik, dan sebagainya.

Seorang tokoh spiritual Yahudi dunia bernama Titzchak Qadduri jauh-jauh hari sudah menyerukan kaum Yahudi agar sesegera mungkin meninggalkan daratan Amerika Serikat karena menurut perhitungannya, sebuah komet atau asteroid raksasa tengah meluncur di alam semesta dan mengarah serta akan menumbuk menuju daratan Amerika.

(gmbr disamping adalah efek dari badai matahari)


Semua itu merupakan ramalan-ramalan para pakar di bidangnya masing-masing.Menurut Islam, kiamat adalah hal yang tidak bias dihindarkan. Hanya saja, kita tidak akan pernah tahu kapan pastinya akan terjadi. Bisa dua jam lagi, bisa besok, atau entah kapan. Umat Islam adalah umat akhir zaman.

Dikutip dari : eramuslim.com

jam

About this blog


berbagai pengetahuan tentang alam semesta dan fakta-fakta bumi akan terangkum disini

selamat belajar...

hitcounter

bagaimana kesan anda pada blog ini?

Labels

Total Pageviews

follower

Popular Posts