Tujuan yang Tak Tertuju
Buah pena : Rachmadhiya Salsabila
“Hah! Desa Seribu Bayangan?” seru Toni heran.
“Iya. Aku dengar desa itu misterius. Bayangan disana bisa hidup!” seru Ardi tak kalah heboh.
“Ah, yang bener? Kok aku gak pernah denger ya?” kataku tak percaya.
“Iya, kita kan dah hidup disini 15 tahun. Samasekali aku enggak pernah dengar nama desa itu?” kata Caca.
“Makanya, itu karena desa itu penuh misteri. Nah, aku ingin besok kita menjelajah saja kesana. Setuju gak? Biar kita bisa tahu lebih dalam tentang desa itu.” Jelas Ardi.
“Kalau aku sih bisa-bisa aja. Tapi gimana nih dengan para ladies? Pada bisa gak?” ejek Toni.
“Emangnya aku takut? Enggak lah. Aku ikut.” Jawabku penuh percaya diri. “Lagipula, apa yang ditakutkan dari bayangan yang bisa hidup?” celotehku.
“Kalau Mia ikut, aku ikut. Hehe.” Jawab Caca.
“OK, berarti besok minggu kita berangkat jam tujuh pagi. Biar enggak kesiangan. Kalian berdua, Mia sama Caca, nanti kita samperin di rumah Mia aja ya.” Ujar Ardi.
“Siap bos.” Jawabku.
Setelah itu kita pamit pulang. Waktu sudah menunjukkan jam 5 sore. Pertemuan di rumah Ardi barusan, membuat aku berfikir tentang desa itu. Desa Seribu Bayangan? Emang ada beneran desa dengan nama seperti itu? Pikirku. Tak lama kemudian, aku sudah sampai dirumah. Dan malam itu, aku menyiapkan segala sesuatunya buat hari esok, karena aku akan pergi pagi sekali.
***********************
Aku, Caca, Toni dan Ardi, pamit pada orang tuaku. Kami sudah berkumpul di rumahku 5 menit yang lalu. Kami pun menusuri jalanan aspal menuju persimpangan di ujung kota. Menuju kesana hanya membutuhkan waktu 30 menit dengan berjalan kaki. Setelah itu ada pertigaan dan kita belok ke kiri. Kurang lebih 15 menit, kita sudah mencapai perdesaan. Jalan menuju Desa Seribu Bayang masih memakai tanah yang dipagari pohon petai yang tinggi besar. Aspal belum mewarnai jalan ini, pikirku.
Jarang sekali terdengar kendaraan bermotor yang lalu lalang di jalan ini. Hanya beberapa petani yang singgah ke sawah miliknya yang terhampar luas sekali di samping kanan kiri kami. Semua padi di sawah ini masih bewarna hijau. Ketika angin berhembus kencang, sawah itu terlihat seperti permadani hijau yang lembut, menggoda kami untuk istirahat di atasnya, karena hari ini matahari bersinar sangat semangat. Angin disini sejuk sekali, seperti membawa hawa dingin yang turun dari gunung bersalju.
Tapi, ketika angin kencang datang kembali, aku melihat hal yang aneh. Ada sebuah gambar yang tergambar di hamparan padi yang masih hijau itu! Bentuknya seperti sebuah wajah!
“Hei, coba lihat sawah disana! Kau lihat sesuatu?” tanyaku sambil menunjukkan sawah yang ada gambar wajah itu.
Toni, Ardi dan Caca tidak melihat gambar wajah itu.
“Liat wajah orang. Bener kan?” seseorang menjawab.
“Kau melihatnya?” jawabku sambil menoleh kearahnya. Seorang anak laki-laki yang kira-kira berumur 10 tahun, tiba-tiba muncul di belakang kami.
“Ya, disekitar sini, sudah bukan menjadi misteri lagi tentang gambar-gambar aneh yang dibuat oleh alam.” Jawab anak itu.
“Maksud kamu?” Tanya Toni.
Anak kecil itu menjelaskan tentang hal-hal aneh yang terjadi di sekitar jalan menuju Desa Seribu Bayang. Seperti bayangan wajah tadi, bayangan daun bamboo yang seperti orang berperangan, bayangan kucing yang seperti serigala, dan hal-hal aneh yang pernah dialaminya. Anak kecil itu bilang, kalau didalam desa itu, semua bayangan serasa hidup. Semua bayangan.
“Oh, jadi itu sebabnya nama desa itu Desa Seribu Bayang.” Tebak Ardi.
“Bukan cuma itu saja, ketika malam hari, di luar rumah, serasa banyak bayangan berkeliaran. Terlihat seperti sekelebat bayangan hitam jalan-jalan.”
Kami semua terdiam mendengar cerita anak laki-laki itu. Tiba-tiba..
“Kyaa !” pekik Caca.
“Apaan sih! Orang baru diceritain dah ketakutan.” Sewot Toni.
“Bukan itu, tapi ini.” Jawab Caca gemetaran.
Ternyata, ada seekor cacing tanah yang menggeliat di betis Caca! Kami semua tertawa geli melihat ekspresi Caca yang ketakutan. Suasana yang seram berganti menjadi penuh tawa gara-gara ulah si cacing nakal di kaki Caca.
*****************
Kami pun melanjutkan perjalanan. Tak terasa 3 jam sudah kami berjalan menuju Desa Seribu Bayang, namun desa yang kami tuju tidak kunjung terlihat.
“Memangnya Desa Seribu Bayang jauh sekali? Kenapa kita enggak sampai-sampai?” Tanya Caca.
“Entahlah. Hei, masih jauh ya?” Tanya Ardi.
“Aku juga jadi bingung. Kenapa terasa jauh sekali.” Jawab anak itu.
“Kau berjanji akan mengantarkan kita ke desa itu kan? Kau telah menghilangkan peta kita tadi sewaktu menolong Caca…” ucap Ardi menegaskan.
“Iya, te..tenang saja. Aku tahu jalannya. Ehm…lebih baik kita istirahat dulu. Bagaimana?” ujar anak laki-laki itu.
“Ya sudahlah. Aku juga sudah capek berjalan.” Jawab Caca.
“Oke, ayo kita istirahat sekarang, sekalian makan siang. Aku sudah tidak sabar untuk melihat desa misterius itu.” Seru Ardi.
Kami pun beristirahat di bawah pohon besar, entah apa jenis pohon tersebut. Kami makan siang bersama. Aneh, sebelumnya aku tidak melihat anak laki-laki itu membawa bekal, tapi mengapa ditangannya kini ada sebungkus nasi, lengkap dengan sayur dan lauknya. Hei, aku juga ingat. Bukankah sewaktu kami melihat dia, dia sehabis keluar dari sawah. Tapi kakinya tidak kotor sama sekali ! Paling tidak ada sedikit lumpur dikakinya. Di kaki anak laki-laki itu, tidak ada sedikit lumpur, bahkan disela-sela kuku kakinya. Ah, sudahlah. Pasti hanya imajinasiku saja.
Anak laki-laki itu bercerita bahwa, dia selalu mendapat pengalaman misterius setiap harinya. Katanya, kemarin dia melihat seorang anak perempuan kecil yang bayangannya seperti seorang wanita dewasa memakai gaun. Dia juga bercerita kalau, kambing milik tetangga sebelahnya mempunyai bayangan seperti kuda perang lengkap dengan baju besinya. Bayangan daun-daun yang gugur terlihat seperti meriam yang jatuh berguguran. Ini semakin menarik saja. Setiap bayangan seperti hidup.
Tapi ketika dia menceritakan pada malam harinya, ini menakutkan. Setiap malam, kita akan merasakan sekelebat bayangan hitam yang banyak lalu lalang di depan rumah kita. Kadang, kita tidur ditemani dengan suara-suara orang berjalan-jalan. Aku takkan pernah bisa tidur di desa itu.
Kami sudah berjalan kira-kira 1 jam tanpa hasil apapun. Kamipun mulai kesal, karena kami berfikir anak laki-laki itu membuat kami tersesat. Ketika kami menanyakan kemana arah yang benar, dia hanya tertawa sembari memperlihatkan barisan gigi kuningnya. Kami yang kesal akhirnya memutuskan mencari seseorang dan bertanya tentang tujuan kami. Tapi, baru aku sadari, sejak kita bertemu dengan anak kecil itu, kemana semua orang? Tapi ketika kami bertemu dengan seseorang, kami merasa tidak perlu untuk bertanya. Ada apa ini?
*******************
Aku pun membisikkan semua hal yang aku curigai kepada Ardi. Diapun seakan tersadar dari ketidakberesan ini. Dia memintaku untuk tidak memberi tahu Caca dan Toni terlebih dahulu. Tak lama kemudian, kami berlima bertemu dengan seorang bapak-bapak yang kelihatan seperti sedang beristirahat.
“Permisi pak, boleh kami bertanya?” sapa Ardi ramah.
“Oh ya, silahkan.” Jawab bapak yang memakai kaos merah itu.
“Kalau boleh tahu, kemana arah menuju Desa Seribu Bayang?” Tanya Ardi.
“Desa Seribu Bayang?” jawab bapak itu heran.
“Iya, pak. Kita sudah berjalan hampir lima jam, tapi tak kunjung menemukan desa itu, pak.” Jelas Toni.
“Desa Seribu Bayang?” Tanya bapak itu sekali lagi, seolah tidak yakin dengan pertanyaannya.
“Betul, pak.” Seru Caca.
“Saya tidak pernah tahu ada desa bernama Desa Seribu Bayang. Apalagi di daerah sini. Desa di sebelah desa ini tidak ada yang bernama Desa Seribu Bayang.” Jelas bapak itu.
“Lho, harusnya ada pak!” kataku tak percaya.
“Saya ini Pak Subari. Kades desa ini. Saya lahir dan besar di desa ini selama 45 tahun. Dan sampai hari ini saya tidak pernah melihat desa bernama Seribu Bayang itu.” Jelas bapak itu.
“Kami membawa seorang penduduk dari desa tersebut…Hei! Kemana anak laki-laki itu!” teriakku.
“Lho? Kemana dia?” ucap Caca bingung.
“Bapak tadi lihat anak laki-laki kecil yang bareng kita?” Tanya Toni.
“Anak kecil yang mana? Dari tadi bapak cuma lihat kalian berempat.” Jawab Bapak Subari.
Hah ! Berempat! Jelas-jelas tadi kita berlima sama anak itu. Kenapa tiba-tiba dia menghilang? Bapak itu juga enggak lihat anak itu. Tunggu dulu..
“Tadi kata bapak, bapak enggak pernah melihat Desa Seribu Bayang.” Tanyaku.
“Iya. Tapi bapak sering mendengarnya.” Jelas bapak itu.
Kami pun diberi tahu tentang mitos keberadaan Desa Seribu Bayang. Desa itu sebenarnya tidak pernah ada. Desa itu hanya akan menjadi bayang-bayang belaka. Karena kami sudah berjalan jauh sekali, dan atas saran bapak kades, kami semua pulang dengan menumpang diatas mobil pickup yang sekaligus akan pergi ke kota.
Dalam perjalanan, aku berfikir apakah ini semua hanya halusinasi? Apakah anak laki-laki itu enggak pernah ada selama ini? Sepanjang perjalanan aku melihat daerah ini berpenghuni, banyak anak-anak bermain di pinggir jalan. Tapi mengapa ketika berangkat, aku merasa berada di daerah yang sepi, seperti desa yang mati.
***********************
“Hei, teman. Kurasa kita memang tidak menemukan Desa Seribu Bayang. Tapi kita melewatinya dengan tidak sadar. Kurasa itulah sebab namanya seperti itu. Karena desa itu hanya ada di bayang-bayang kita.”
{ pertama kali dalam sejarah hiduku,, cerpen ku selesai!! wah, senangnya hatiku karna dari dulu aku membuat cerpen tidak pernah selesai..hhe. ini juga selesai karna tuntutan tugas mata pelajaran bhs.indonesia kelas XG SMA N 8 YOGYA. jadi, jadi enggak jadi kudu jadi. ok.