Saat ini, teleskop Spitzer milik NASA berhasil menemukan bintang muda dengan bukti orbit hiperaktif yang mirip. Planet muda tersebut mengelilingi bintang yang diperkirakan merupakan objek mirip komet yang mengalami gangguan dan mengakibatkan terjadinya tabrakan sehingga melepas debu halo yang sangat besar. Bintang tersebut, HR 8799 pada bulan November 2008 lalu diberitakan sebagai bintang pertama dari dua bintang yang citranya terekam memiliki planet. Teleskop landas Bumi di Observatorium W.M Keck dan Observatorium Gemini yang berada di HAwaii, merekam citra dari 3 planet yang mengorbit pada area yang cukup jauh dari sistem, dengan massa ketiganya sekitar 10 massa jupiter. Planet lainnya yang terekam juga diumumkan pada saat yang sama dengan bintang Fomalhaut. Fomalhaut ditemukan dan dipotret oleh Teleskop Hubble milik NASA. HR 8799 dan Fomalhaut merupakan bintang muda yang jauh lebih masif dari Matahari. Citra inframerah halo debu raksasa yang berada di sekitar bintang HR 8799. kredit : NASA/Spitzer Sebelumnya, para astronom telah menggunakan Hubble dan Spitzer untuk mengambil citra piringan yang berotasi dari puing-puing keplanetan di sekitar Fomalhaut, yang jaraknya 25 tahun cahaya dari Bumi. Bintang HR 8799 jaraknya 5 kali lebih jauh sehingga para ilmuwan sendiri meragukan apakah Spitzer mampu memotret piringannya. Ternyata… Spitzer berhasil. Menurut Kate Su dari Universitas Arizona, sekaligus pimpinan tim peneliti sistem di HR 8799, “awan debu raksasa yang mengelilingi piringan itu sangat tidak biasa. Debu tersebut diperkirakan berasal dari tabrakan antar benda kecil yang mirip komet atau obyek es yang membentuk sabuk Kuiper di Tata Surya”. Gravitasi ketiga planet raksasa ini menyebabkan benda-benda yang lebih kecil terlontar dan bermigrasi di area sekeliling atau bertabrakan satu sama lainnya. Bahkan para astronom memperkirakan kalau ketiga planet tersebut masih belum bisa dipastikan kapan akan mencapai orbit yang stabil. Dengan demikian masih banyak kekerasan yang akan terus terjadi. Sistem mengalami keadaan yang kacau dan semrawut. Tabrakan terjadi dimna-mana dan memenuhi awan besar itu dengan debu halus. Yang menarik, para ilmuwan berhasil mendapatkan hubungan langsung antara piringan planet dan planet yang terekam dalam citra. Penelitian pada piringan sudah lama dilakukan, dan hanya bintang HR 8799 dan Fomalhaut yang merupakan dua contoh sistem yang dapat dipelajari hubunganya antara lokasi planet dan piringan. Saat Tata Surya masih muda, ia juga melewati proses migrasi yang mirip. Jupiter dan Saturnus bergerak berkeliling, mengalami tabrakan dan melemparkan komet ke sekelilingnya bahkan kadang ke Bumi. Bahkan ada teori yang mengatakan kalau kejadian ekstrim pada fasa inilah yang dikenal dengan nama tabrakan besar (heavy bombardment), fasa yang diyakini dapat menjelaskan bagaimana Bumi memiliki air. Diperkirakan, komet yang mirip bola saljulah yang telah menghantam Bumi dan membawa cairan favorit penduduk Bumi, air. Dikutip dari : langitselatan.comSebelum planet-planet menemukan jalannya untuk memiliki orbit yang stabil seperti saat ini, mereka bergoyang dan dorong-mendorong seperti halnya anak-anak kecil yang tidak bisa tenang.

“Barat telah mencapai kemajuan dalam ilmu luar angkasa. Tapi, sesungguhnya dari tangan ilmuwan Muslim misteri angkasa luar itu pertama kali berhasil disibak

Hidayatullah.com--Islam mencapai puncak kejayaannya pada era pemerintahan Daulah Abbasiyah, terutama pada bidang ilmu pengetahuan. Nyaris tak ada sejengkal pun dari bilik-bilik ilmu ini yang tidak tersentuh oleh umat Islam. Termasuk ilmu tentang dunia luar angkasa. Nashiruddin ath-Thusi dan al-Biruni adalah sebagian dari sosok yang cukup dikenal kepakarannya dalam bidang ini.
Jadi sebelum ilmuwan Barat bergelut di dalamnya, para ilmuwan Islam telah lebih dulu mendalami dan mengakrabi dunia angkasa luar. Meski tak semaju dengan capaian ilmuwan Barat, tapi dari hasil kajian ilmuwan Muslimlah pintu-pintu menuju kemajuan terbuka satu demi satu.
Bintang, bulan, dan matahari adalah obyek penelitian yang paling menarik perhatian para ilmuwan Muslim kala itu. Pasalnya, Al-Quran mengabarkan bahwa ketiga ciptaan Allah ini mempunyai fungsi yang luar biasa. Bintang misalnya, Allah menciptakannya sebagai petunjuk dalam menentukan arah.
Inilah yang coba diteliti oleh ilmuwan Muslim ketika itu. Dari hasil kajian dunia luar angkasa, beragam kemudahan bisa dinikmati umat Islam saat itu. Satu persatu hikmah dan manfaat di balik penciptaan bintang berhasil terkuak. Yang paling sangat bermanfaat adalah cara dalam menjadikan bintang sebagai penunjuk arah.
Jelas saja hasil itu berpengaruh besar dalam kehidupan umat Islam saat itu. Sektor perekonomian termasuk yang paling merasakan berkahnya. Perjalanan bisnis para saudagar Arab yang kerap tersendat oleh pekatnya malam, kini sudah mulai teratasi. Dengan adanya penunjuk arah, hamparan padang pasir yang berselimutkan gelapnya malam bukan lagi 'penyesat' yang perlu ditakuti. Begitu juga para nelayan yang mencari ikan di hamparan laut luas.
Kita juga mengakui bahwa sebagian dari ilmu perbintangan ini dikecam oleh para ulama. Namun, jika kita perhatikan buku akidah, maka yang diharamkan adalah ilmu perbintangan yang digunakan untuk meramal perkara-perkara yang belum terjadi, seperti meramal nasib atau kejadian tertentu yang sifatnya ghaib bagi manusia. Lain halnya jika ia digunakan untuk kepentingan menentukan arah. Dalam fungsi ini hukumnya mubah-mubah saja. Al-Quran sendiri melegalkannya. Bahkan, hukum itu bisa berubah menjadi mustahab atau wajib jika digunakan untuk menentukan arah kiblat.
Bukti Sejarah
Di perpustakaan Eropa, kita bisa menemukan bukti bahwa sumbangsih ilmuwan Muslim dalam ilmu luar angkasa bukan omong kosong. Khususnya yang berkaitan dengan penamaan bintang. Seorang penulis Barat bernama Paul Kunitzsch menemukannya dalam buku Almagest karya Ptolomeus tentang penamaan bintang "Fomalhault" . Nama itu berasal dari bahasa Arab, "famul haut" yang berarti mulut ikan hiu. Muslim Heritage Foundation bahkan mencatat ratusan nama bintang yang berasal dari Bahasa Arab.
Tapi begitulah siklus kehidupan yang diinginkan pencipta-Nya. Allah akan mempergilirkan kejayaan itu berdasarkan usaha dan kerja keras setiap kaum. Itulah yang terjadi pada rezim Abbasiyah. Pemerintahan yang semakin melemah memaksa perkembangan ilmu pengetahuan kembali masuk ke jalur lambat. Apa yang telah dirintis oleh para ilmuwan kita seolah kehilangan induknya karena tak lagi mendapat nafkah perhatian yang memadai. Salah satu yang mengalami nasib malang itu adalah ilmu angkasa luar.
Lahir kembali
Berabad abad terlelap tidur, akhirnya kejayaan Islam di luar angkasa yang nyaris terkubur itu seolah lahir kembali. Sultan Salman Abdul Aziz adalah aktor utamanya. Pria berkebangsaan Arab Saudi ini tak lagi mengamati ciptaan Allah di luar angkasa dari bumi. Ia melihatnya dalam radius yang lebih dekat.
Pada tahun 1985, ia berangkat ke luar angkasa sebagai peneliti mewakili organisasi satelit Arab. Keberangkatannya tentu saja mengangkat prestise umat Islam di dunia internasional. Pasalnya, pria yang tak lain cucu pendiri Kerajaan Arab Saudi ini menjadi orang Islam pertama yang berhasil menembus luar angkasa.
Ia melayang di dunia yang sangat asing ini selama delapan hari. Sepulang dari luar angkasa Sultan bukannya istirahat. Pria kelahiran Riyadh, 27 Juni 1956 ini bersama beberapa orang temannya, langsung mendirikan Association of Space Explorers. Lembaga bertaraf internasional ini mewadahi para astronot yang pernah mengangkasa. Sultan menjadi orang penting di dalamnya.
Keinginan mengembalikan kejayaan Islam di luar angkasa juga ikut menjalar sampai ke negeri jiran. Pemerintah Malaysia selalu menunggu waktu yang tepat untuk mengirim putra terbaiknya ke luar angkasa. Dan saat yang dinanti pun tiba. Pada tahun 2005, pemerintah Malaysia memutuskan untuk membuat program mengirim angkasawan ke Rusia. Mereka belajar di sana sebelum terbang.
Rencana besar ini tidak dilakukannya dengan sembrono. Pendaftaran memang terbuka, tapi seleksinya diperketat. Jumlah pendaftar mencapai 11.000 orang. Mereka mengikuti sembilan tahap seleksi, sampai akhirnya hanya terpilih sepuluh di antara mereka yang layak pergi ke Rusia untuk memperdalam ilmu angkasa di sana. Dari sepuluh orang yang dikirim, Rusia memutuskan untuk memilih satu saja di antara mereka yang layak pergi menjalankan misi di luar angkasa.
Keberuntungan itu jatuh pada Dr Sheikh Muszafhar Shukor. Pria yang sehari-harinya bekerja di sebuah rumah sakit di Malaysia, berhasil menyisihkan ribuan pesaingnya. Ia akhirnya meluncur ke angkasa pada tanggal 10 Oktober 2007 lalu. Sesuai dengan keahliannya sebagai dokter bedah ortopedik, di luar angkasa ia menjalani eksperimen yang terkait dengan bedah tulang.
Shalat di Luar Angkasa
Penelitian bukanlah satu-satunya misi Sheikh Muszafhar di luar angkasa. Ia juga membawa misi relijius yang sangat penting. Ia ingin melaksanakan shalat di luar angkasa, sekaligus mengabarkan kepada dunia bahwa shalat adalah ibadah yang sangat agung. Ibadah yang tidak boleh ditinggalkan kapan dan di mana saja, termasuk ketika berada di luar angkasa.
Bersama tiga astronot lainnya, ia mengangkasa selama 12 hari. Waktu itu umat Islam di bumi sedang menjalankan ibadah puasa. Sebagai orang Islam, Sheikh tetap menjalankan ibadah itu meski berada ribuan mil dari bumi. Dan ia mengaku, berpuasa di langit jauh lebih nyaman dan khusyuk. Selain karena tidak merasa haus, lapar, atau lelah, ia juga bisa melihat beragam tanda-tanda kekuasaan Allah.
Di angkasa, Sheikh menjalankan sejumlah eksperimen yang diamanahkan kepadanya. Di atas sana, ia menjalankan fungsinya sebagai dokter dengan penelitian-penelitian biologis dan kimiawinya. Menurut Sheikh, 12 hari ternyata tidak cukup panjang untuk menjalankan semua eksperimennya.
Sheikh tidak bisa menyembunyikan rasa puas dari perjalanannya ini. Bukan saja karena ia berhasil melakukan penelitian, sebagaimana yang ia rencanakan. Di luar angkasa ia bisa menjumpai banyak sekali tanda kekuasaan Allah. Yang tak mungkin terlupakan, ketika ia mendengar suara adzan di sana.
"Saya seperti menemukan kedamaian yang berbeda. Percaya atau tidak, di hari terakhir sewaktu kami hendak turun ke bumi, saya mendengar suara adzan," kisahnya. Rasa syukur dan senang Sheikh semakin berlipat karena ia merasa keberangkatannya tak sekedar mewakili negaranya, tapi juga dunia Islam.
Dikutip dari : hidayatullah.com
Astronom berhasil melacak kumpulan galaksi raksasa yang sebelumnya tidak dikenal dan berada 7 milyar tahun cahaya dari kita. Objek tersebut ditemukan oleh kombinasi dua teleskop landas Bumi yang memiliki kemampuan mutakhir dan sekaligus menjadikan penemuan ini sebagai pengamatan yang pertama dalam hal struktur galaksi pada alam semesta yang jauh. Dengan demikian penemuan ini memberikan kepada kita sebuah cerita baru dari jaringan kosmik dan bagaimana ia terbentuk.

Citra yang didapat oleh Teleskop Subaru. Kredit : ESO/Subaru/National Astronomical Observatory of Japan/M. Tanaka
Menurut Masayuki Tanaka dari ESO, “materi tidak terdistribusi seragam di alam semesta. Di daerah kosmik, bintang terbentuk dalam galaksi dan galaksi-galaksi biasanya membentuk kelompok dan gugus. Teori kosmologi yang paling diterima memperediksikan materi juga berada dalam rumpun dengan skala yang cukup besar yang biasanya dikenal sebagai jaringan kosmik, dimana galaksi tertanam dalam filamen dan terulur diantara kehampaan membentuk struktur gumpalan maha raksasa”.
Filamen-filamen tersebut panjangnya jutaan tahun cahaya dan merupakan kerangka alam semesta: galaksi berkumpul disekelilingnya, dan gugus galaksi yang sangat besar terbentuk di ruang perpotongannya, mengintip seperti laba-laba raksasa yang menanti materi lebih banyak lagi untuk dilahap. Nah, para peneliti justru berusaha mencari tahu bagaimana filamen-filamen tersebut bisa melakukan putaran dan ada seperti yang dilihat. Sebelumnya, struktur filamen yang masif sudah pernah diamati pada jarak yang lebih dekat, namun bukti keberadaan mereka pada alam semesta jauh sebenarnya bisa dikatakan masih sangat kurang sampai dengan saat ini.
Tim yang dipimpin Tanaka berhasil menemukan struktur raksasa disekeliling gugus galaksi dalam citra yang mereka dapatkan sebelumnya. Mereka kemudian menggunakan dua teleskop landas Bumi untuk dapat mempelajari struktur tersebut dalam detil yang lebih baik lagi. Pengamatan spektroskopik kemudian dilakukan dengan menggunakan instrumen VIMOS pada Very Large Telescope milik ESO dan FOCAS pada Teleksop Subaru yang dioperasikan oleh National Astronomical Observatory of Japan.
Hasilnya, para astronom bisa membuat studi demografi dari struktur yang ditemukan tersebut dan melakukan identifikasi terhadap beberapa kelompok galaksi yang mengelilingi rumpun galaksi utama. Tak hanya itu, mereka juga berhasil melihat dengan jelas dan membedakan puluhan rumpun, dan secara tipikal 10 kali lebih masif dari galaksi Bima Sakti. Sebagian lainnya bahkan diperkirakan ribuan kali lebih masif, sementara hasil perhitungan menunjukkan massa di cluster galaksi setidaknya 10 ribu kali massa Bima Sakti. Bahkan sebagian rumpun mengalami gaya tarik yang fatal dari si cluster dan akibatnya mereka jatuh ke dalam rumpunan tersebut.

Ilustrasi yang menunjukkan posisi galaksi. Kredit: ESO
Menurut Tanaka, “Ini pertama kalinya mereka mengamati struktur yang kaya di galaksi jauh. Kami sekarang bisa berpindah dari demografi ke sosiologi dan kemudian mempelajari perangkat di dalam galaksi yang bergantung pada lingkungan, saat alam semesta berusia 2/3 dari usia saat ini. Filamen tersebut berlokasi 6,7 milyar tahun cahaya dan membentang sampai dengan 60 juta tahun cahaya.
Dikutip dari : langitselatan.com
Benarkah Apophis akan mengakhiri nasib Bumi tahun 2036? Kalau sebelumnya cosmos4u sudah melakukan konfirmasi dengan Don Yeoman dari NEO tentang kemungkinan tabrakan tersebut, kali ini secara resmi pihak NASA-lah yang mengeluarkan rilis berita tentang kemungkinan tabrakan Apophis serta berita yang sedang beredar tersebut.
Dalam berita sebelumnya, Nico Marquardt, seorang siswa berusia 13 tahun, menyatakan Apophis akan menabrak Bumi dalam perbandingan 1:450. Berita yang beredar juga menyebutkan kalau Nico dan NASA sudah mencapai kesepakatan, bahkan NASA telah mengakui kalau ada kesalahan dalam perhitungan mereka.
Dari kanto
r Near-Earth Object (NEO) Program di NASA’s Jet Propulsion Laboratory, Pasadena, Calif, dinyatakan bahwa NEO tidak pernah merubah estimasi yang ada saat ini terhadap kemungkinan tabrakan Apophis. Apophis tetap akan memiliki kemungkinan tabrakan yang rendah dengan Bumi yakni 1 : 45000 di tahun 2036. Bahkan NASA khususnya dari NEO Program menyatakan, para peneliti mereka belum pernah melakukan kontak maupun korespondensi dengan siswa tersebut.
Dalam berita sebelumnya, dinyatakan Nico Marquardt melakukan perhitungan terhadap kemungkinan tabrakan antara asteroid Apophis dengan satelit buatan sepanjang close encounter (pertemuan terdekat) degan Bumi pada tahun 2029.
Sayangnya, pada tahun 2029 saat asteroid Apophis tersebut mendekati Bumi, ia tidak akan melewati area di dekat sabuk utama satelit Geosynchronous. Dengan kata lain, kesempatan terjadinya tabrakan dengan satelit buatan sangat jauh.
Karena itu, perti
mbangan skenario kemungkinan tabrakan dengan satelit tetap tidak akan mempengaruhi kemungkinan tabrakan yang sudah diperhitungkan saat ini, yakni satu berbanding 45.000.
NASA, khususnya program NEO, bertugas untuk mendeteksi dan mencari jejak asteroid dan komet yang melintas dekat Bumi. Mereka akan mencari dan menghitung jejak orbit si objek untuk menentukan apakah peristiwa itu berbahaya bagi Bumi atau tidak.
Dikutip dari : langitselatan.com
Jangan lewatkan kesempatan untuk mengamati hujan meteor Leonid yang bakal mencapai puncaknya pada Selasa (17/ 11) malam. Pemandangan langka yang tidak semua orang bisa menikmatinya ini bisa disaksikan dengan mata telanjang di semua wilayah dunia, bahkan paling baik dilihat dari Asia, termasuk Indonesia.
Setiap tahun, hujan meteor Leonid selalu mendapat perhatian dari para pengamat langit. Kali ini, kondisi langit juga mendukung karena bulan dalam fase bulan baru sehingga cahayanya tidak mengganggu. Namun, pemandangan spektakuler ini tentu baru bisa dinikmati jika cuaca tidak mendung.
"Kami prediksi 20-30 meteor per jam di atas langit Amerika dan sebanyak 200-300 meteor per jam di langit Asia," ujar Bill Cooke, pejabat di Meteoroid Environment Office NASA. Waktu terbiak untuk mengamatinya adalah setelah tengah malam hingga fajar.
Disebut hujan meteor Leonid karena meteor-meteor yang melesat muncul dari pusat radian di atas rasi bintang Leo. Bulan November ini, rasi bintang ini bisa dilihat di arah Timur Laut pada malam hari. Hujan meteor Leonid berasal dari serpihan-serpihan komet Tempel-Tuttle yang tertinggal saat mendekati Matahari setiap 33 tahun sekali. Saat serpihan-serpihannya melintasi atmosfer Bumi, ia akan terbakar dan terlihat sebagai meteor.
Ukuran serpiha
n-serpihan berupa debu dan es itu rata-rata tak lebih besar dari butiran pasir. Namun, ada beberapa yang sebesar biji kacang atau kelereng. Namun, karena arah gerak serpihan-serpihan itu berlawanan dengan gerakan Bumi, kecepatan meteor yang melesat bisa mencapai 72 kilometer per jam dan kadang-kadang membentuk jalur cahaya yang panjang dengan rona cahaya putih, biru, atau hijau.
Jumlah meteor yang melesat setiap tahun berubah-ubah tergantung bagian yang bersinggungan dengan atmosfer Bumi. Tahun ini diperkirakan lebih banyak meteor yang terlihat dibandingkan tahun lalu. Namun, pemandangan paling spektakuler pernah terjadi antara tahun 1999 dan 2002 saat ribuan meteor bisa dilihat dalam setiap jam sehingga mirip badai meteor.
Dikutip dari : kompas.com
Di bumi, aurora terjadi di
daerah di sekitar kutub Utara dan kutub Selatan magnetiknya. Aurora yang terjadi di daerah sebelah Utara dikenal dengan nama Aurora Borealis (IPA /ɔˈɹɔɹə bɔɹiˈælɪs/), yang dinamai bersempena Dewi Fajar Rom, Aurora, dan nama Yunani untuk angin utara, Boreas. Ini karena di Eropa, aurora sering terlihat kemerah-merahan di ufuk utara seolah-olah matahari akan terbit dari arah tersebut. Aurora borealis selalu terjadi diantara September dan Oktober dan Maret dan April.
Fenomena aurora di sebelah Selatan yang dikenal dengan Aurora Australis mempunyai sifat-sifat yang serupa.
Berikut video aurora Borealis :
Sejatinya gelombang galaksi yang besar-besaran tersebut merupakan badai matahari. Ancaman itu bukan skenario ilmiah satu banding sejuta. Tapi ancaman itu sangat nyata, dan akan terjadi pada September 2012. Badai matahari dahsyat pernah terjadi pada pagi 1 September 1859. Astronomer Inggris terkenal Richard Carrington yang sedang mengamati matahari, mendapati permukaan matahari terjadi suatu hal yang tidak biasa. Cahaya terang keluar dari permukaan matahari. Cahaya itu membentuk gumpalan besar saat menuju bumi. Hanya dalam tempo 48 jam kemudian mulai menerpa dan efeknya luar biasa.
Sebelum mencapai bumi, aurora terang muncul di langit malam. Saking terangnya, orang bisa membaca koran saat tengah malam. Di California sekelompok penambang bangun dari tidur, mengira hari sudah jajar. Padahal waktu itu baru jam 2 pagi. Operator telegraph terkena sengatan listrik, saat badai matahari menghantam. Bumi layaknya dibasuh medan listrik sangat besar. Tapi pemulihan di zaman itu berlangsung sangat cepat. Pada 1859, peralatan yang ada hanyalah mesin uap dan tenaga otot. Beda dengan zaman modern sekarang, kehidupan semuanya ditopang oleh listrik. Padahal badai matahari bisa menyebabkan lonjakan tenaga listrik hingga miliaran watt.
Jadi, apakah badai matahari benar bisa terjadi, dan mengapa kita perlu khawatir pada 2012? Karena pada 2012 semua bangunan di permukaan bumi ini memerlukan daya listrik yang amat besar, maka sampai 2012 harus ditingkatkan pembangkit listrik cadangan untuk memenuhi kebutuhan mendadak saat badai matahari menerjang. Jangan sampai kehidupan 2012 tanpa ada pembangkit daya karena listrik adalah kebutuhan utama manusia saat ini.Dikutip dari : kapanlagi.com
Menurut sumber lain,,
Siklus aktivitas matahari yang memuncak di tahun 2012 yang menyebabkan panas yang luar biasa di bumi, terlebih atmosfer kita sudah mengalami penipisan dan bolong di beberapa bagian sehingga selain memanaskan bumi dengan radikal juga melelehkan es di kutub dan juga menimbulkan badai serta topan yang dahsyat.
Medan magnet bumi yang berfungsi sebagai pertahanan utama bumi terhadap radiasi sinar matahari mulai retak bahkan ada yang sampai sebesar kota California di sana-sini. Pergeseran kutub juga tengah berlangsung.
Tata sury
a kita tengah memasuki medan awan energi antar bintang. Awan itu mengaktifkan dan merusak keseimbangan matahari serta atmosfer planet-planet. Para ahli geofisika Rusia berpendapat bahwa ketika bumi akan memasuki awan energi tersebut di tahun 20120 hingga 2020 dan akan menimbulkan bencana besar yang belum pernah ada sebelumnya.
Fisikawan UC Berkeley menyatakan dinosaurus serta spesies lainnya telah punah akibat tumbukan asteroid raksasa 65 juta tahun silam. Menurut siklus yang diperhitungkan secara ilmiah, seharusnya hal itu sudah terjadi lagi di saat-saat sekarang.
Supervulkan Yellowstone yang memiliki siklus letusan dahsyat setiap 600 hingga 700 ribu tahun tengah bersiap untuk meletus kembali. Beberapa perhitunmgan ilmiah lainnya turut mendukung pandangan ini.
Menariknya, ramalan bangsa Maya (juga suku Hopi, Mesir Kuno, dan beberapa suku kuno lainnya) di dalam kalendernya dengan detil mengungkapkan jika tahun 2012 merupakan akhir sekaligus awal zaman baru. Bagaikan kelahiran seorang anak manusia, maka kelahiran zaman baru ini akan dipenuhi dengan darah. Suku Maya merupakan salah satu suku kuno di dunia ini yang dikenal sebagai suku yang sangat detil memperhatikan dan menghitung bintang-bintang dan benda langit lainnya.
Kitab kuno dari Cina, I Ching, juga menyatakan akan terjadi bencana besar di tahun 2012.
Beberapa ativitas modern juga terkait dengan tahun 2012, yakni dateline modernisasi besar-besaran Pentagon paska ditubruk rudal dalam peristiwa 11 September 2001, batas akhir pelaksanaan Codex Alimentarius yang berupaya mengurangi populasi manusia di bumi dengan rekayasa genetika dan makanan transgenik, dan sebagainya.
Seorang
tokoh spiritual Yahudi dunia bernama Titzchak Qadduri jauh-jauh hari sudah menyerukan kaum Yahudi agar sesegera mungkin meninggalkan daratan Amerika Serikat karena menurut perhitungannya, sebuah komet atau asteroid raksasa tengah meluncur di alam semesta dan mengarah serta akan menumbuk menuju daratan Amerika.
(gmbr disamping adalah efek dari badai matahari)
Dikutip dari : eramuslim.com
Ketika cuaca Bandung belum jelas mau musim kering atau musim ujan, tanggal 20 Maret 2009 langit terlihat amat cerah. Pengamat Hakim L. Malasan dengan teleskop GAO-ITB RTS dan Kamera CCD SBIG STL6303/E yang dilengkapi Bessel BVR filters dengan medan pandang yang dimiliki kamera CCD tersebut sekitar 40′x32′ miliknya, melihat The Jewel Box (NGC475) dan Nebula Orion (M42).
inilah teleskop yang dipake sama Hakim L. Malasan:
Nebula Orion berada di sabuk Orion, dan dapat dilihat dengan mata bugil. Dan The Jewel box merupakan open cluster yang berada di konstelasi Crux atau Salib Selatan.

Tujuan dari misi Apollo 11 mendarat orang-orang di permukaan bulan dan kembali dengan aman ke Bumi. Kru Neil A. Armstrong, komandan; Michael Collins, Command Module pilot; dan Edwin E. Aldrin Jr, Lunar Modul pilot. Setelah peluncuran, pesawat ruang angkasa itu dimasukkan ke orbit bulan sekitar 76 jam ke dalam misi. Setelah waktu istirahat, Armstrong dan Aldrin memasuki Lunar Modul mempersiapkan turun ke permukaan bulan. Kedua pesawat ruang angkasa itu undocked sekitar 100 jam, ketika Command and Service Modul terpisah dari Lunar Module. Pesawat mendarat di Laut Tranquillity at 4:18 EDT. Setelah itu, mereka makan makanan pertama mereka di Bulan dan memutuskan untuk memulai operasi permukaan lebih awal dari yang direncanakan. Sebuah Lun Setelah bulan pendakian, Lunar Modul yang merapat dengan Modul Komando dan Layanan di 128 jam. Kru ditransfer ke Komando dan Layanan Modul, panggung pendakian disingkirkan dan mereka siap untuk trans-Bumi injeksi.Hanya satu midcourse koreksi dibutuhkan, dan pengendalian termal pasif digunakan untuk sebagian besar trans-Bumi pantai. Cuaca buruk membuat perlu untuk memindahkan titik penceburan 346 kilometer (215 mil) downrange. Catatan atmosfer fase normal, dan modul perintah mendarat di Samudera Pasifik di 195 ¼ jam.Pendaratan koordinat, seperti yang ditetapkan dari komputer onboard, adalah 13 derajat 30 menit lintang utara dan -169 derajat 15 menit bujur timur.ar Modul yang disediakan kamera liputan siaran langsung Armstrong menginjakkan kaki di permukaan bulan di 10:56 EDT. Sama seperti ia melangkah keluar dari Lunar Module Neil Armstrong menyatakan, "Itu salah satu langkah kecil bagi seorang pria, satu lompatan raksasa bagi umat manusia." Aldrin muncul segera setelah, menginjakkan kaki di permukaan bulan pada 11:16 EDT.Aldrin dievaluasi kemampuannya untuk beroperasi dan bergerak dan mampu bergerak dengan cepat dan dengan percaya diri. Empat puluh tujuh kilogram materi permukaan bulan dikumpulkan untuk dikembalikan untuk analisis. Eksplorasi permukaan ditutup dalam 2 ½ jam, ketika kru kembali memasuki lunar module.
Dengan keberhasilan Apollo 11, tujuan nasional untuk laki-laki mendarat di Bulan dan kembali dengan aman ke bumi telah dicapai.
Dikutip dari : http:spaceflight.nasa.gov




